Seni menyakiti diri sendiri. Cerita ini bercerita tentang perjalanan seseorang mencari jati dirinya. Tidak perlu dikasihani ataupun dicemooh, karena ia juga membodohi dirinya sendiri.
Aku bisa dipanggil si dungu.
23 April 2020, hari dimana aku memutuskan hubunganku denganmu berubah dari persahabatan menjadi penyesalan yang mungkin engkau sesali saat ini. Banyak hal menjadi pertimbangan, karena pada dasarnya semua hal tak berjalan sesuai keinginan. Namun pada hari itu aku putuskan dengan pertimbangan masih ada kesesuaian antara harapan dan kenyataan.
7 Mei 2021, cukup lama ya, 1 tahun yang sangat cepat berlalu, mungkin banyak hal dalam 1 tahun itu, namun itu baru awal dari semua penyesalanmu. Masih ingatkah hari itu? Kita tak mengira semuanya akan seperti ini. Menyantap makanan di tempat makanan favoritmu masih menjadi salah satu kebahagiaanku. Terlebih ada kamu yang masih memiliki angan yang sama denganku.
5 Juni 2021, tak terlalu lama ya dari sebelumnya. Hari itu mungkin salah satu hari yang tak akan pernah kulupakan. Bercanda, tertawa, bercerita. Mungkin kita terlalu bahagia hari itu, melewati sore bersama. Bahkan hingga kaki melangkah pulang, senyuman sama sekali tak menghilang.
Namun, kita lupa bumi dengan rotasi nya, roda dengan perputarannya, dan kehidupan dengan segala kejutannya. Kita terlalu jumawa, berpikir bahwa dunia selalu memihak kepada kita. Namun cara kerja kehidupan tidak seperti itu. Tuhan memberi apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.
Setelah hari itu, mungkin penyesalanmu baru akan dimulai. Aku dengan segala ego dan pikiranku, engkau dengan segala rasa bebasmu. Mengenal bapak ibumu mungkin salah satu keputusan salah terbaik yang pernah ku lakukan. Aku tersadar suatu hal bahwasanya hal yang lebih ku butuhkan adalah keluarga. Keluarga yang selama ini belum pernah kudapatkan.
Darimu, sejak awal aku melihat ada suatu perbedaan mendasar yang kutemui. Dirimu dibesarkan oleh keadaan yang serba kekurangan, namun keluarga yang penuh perhatian. Sedangkan diriku tumbuh dari keluarga yang berkecukupan, namun tak pernah mendapat kesempatan bahagia bersama kedua orang tua. Dirimu tumbuh menjadi wanita dewasa yang mandiri namun tetap manja. Diriku sebaliknya, menjadi pria yang tak bisa mandiri, namun berpemikiran dewasa.
Kita bersama, namun tak sama. Bapak ibumu sudah kuanggap seperti kedua orang tuaku. Karena mereka, diriku bisa merasakan bahagia yang belum pernah kutemui sebelumnya. Mungkin diriku terlalu tamak ingin menjadi salah satu dari anak mereka. Namun, aku lupa diriku bukan siapa-siapa.
Aku mengira jika dekat dengan orang tua mu bisa memberikan kebahagiaan untukku dan untukmu. Namun ternyata dirimu tak seperti itu. Dirimu berpikir dengan diriku yang dekat dengan kedua orang tuamu, aku bebas mengendalikan dirimu lewat mereka. Apa pikiran itu salah? Tentu tidak, namun itu bukan diriku.
Kepercayaanmu perlahan hilang dengan sikapku yang tetap pada keyakinanku. Menyalahkan temanmu, mencari tahu tentangmu, dan berpikir terlalu dewasa terhadapmu mungkin beberapa dari banyaknya kesalahanku terhadapmu.
Diriku tak bodoh, aku tahu dirimu semestinya membenciku saat ini. Diriku juga tak buta dan tuli, aku tahu dirimu telah menemukan nyaman mu saat ini. Namun nyatanya aku akan tetap disini, menjaga janjiku, ucapanku, dan masa depanku. Karena itulah dirimu bisa memanggilku si dungu.
Satu hal yang ingin kuucapkan jika masih diberi kesempatan berbicara denganmu. Jika setelah denganku kamu menemukan kebahagiaanmu, aku lebih dari ikhlas melihatmu.
- Dariku yang selalu ingin melihat kebahagiaanmu –
7 Mei 2022

Komentar
Posting Komentar